Sering Stres? Ketahui Hubungannya dengan Risiko Tekanan Darah Tinggi
Stres sering dianggap sekadar gangguan emosional sesaat. Namun, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa stres—terutama yang berlangsung kronis—memiliki kaitan nyata dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi (hipertensi). Berikut penjelasan mengenai hubungan keduanya berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Bagaimana Stres Memengaruhi Tekanan Darah?
Saat seseorang mengalami stres, tubuh mengaktifkan sistem saraf dan hormonal untuk merespons ancaman. Respons kardiovaskular yang berlebihan terhadap stres akut maupun kronis dapat meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Otak mengaktifkan sistem saraf dan neuroendokrin untuk meminimalkan dampak buruk dari stres tersebut.
Secara mekanisme, hipertensi akibat stres diyakini terjadi karena peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis-adrenal, yang meningkatkan sekresi norepinefrin dan epinefrin serta memperkuat tonus pembuluh darah. Selain itu, stres yang memengaruhi respons baroreseptor dapat menyebabkan tubuh “menyesuaikan” tekanan darah ke level yang lebih tinggi, yang turut berkontribusi pada hipertensi. Aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron juga terjadi, menyebabkan vasokonstriksi dan retensi natrium akibat peningkatan kadar angiotensin-II dan aldosteron.
Apa Kata Penelitian?
1. Hormon stres dan risiko hipertensi jangka panjang
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Hypertension (American Heart Association) menemukan bahwa pada lebih dari 400 orang dewasa dengan tekanan darah normal, mereka yang memiliki kadar hormon stres tinggi dalam urine lebih berisiko mengalami hipertensi dalam 6–7 tahun berikutnya. Selama masa pemantauan median 6,5 tahun, setiap kali kadar empat hormon stres yang diukur meningkat dua kali lipat, risiko terjadinya hipertensi naik sebesar 21–31%.
2. Stres psikososial pada populasi Asia dewasa
Studi pada komunitas Asia-Amerika menemukan bahwa stres yang dirasakan (perceived stress) merupakan prediktor kuat terjadinya hipertensi, dengan prevalensi hipertensi mencapai 29,1% pada populasi yang diteliti.
3. Stres kronis pada populasi kulit hitam (Jackson Heart Study)
Penelitian kohort ini menemukan bahwa stres yang dirasakan tinggi secara terus-menerus dari waktu ke waktu berkaitan dengan risiko signifikan lebih tinggi terjadinya hipertensi baru, dibandingkan dengan stres rendah yang konsisten. Hubungan ini tetap signifikan secara independen dari faktor sosiodemografis, perilaku kesehatan, dan tingkat stres awal.
4. Stres pada populasi Tiongkok paruh baya
Studi ini menemukan bahwa stres psikologis secara umum berkontribusi sekitar 9,1% terhadap risiko hipertensi, meski kontribusinya tidak konsisten antara pria dan wanita—risiko lebih besar terlihat pada wanita.
5. Depresi, kecemasan, dan hipertensi
Sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa depresi meningkatkan risiko hipertensi hingga 1,42 kali lipat, bahkan data dari studi CARDIA menemukan individu dengan skor depresi tinggi memiliki risiko 2,8 kali lipat lebih besar mengalami hipertensi setelah 5 tahun pemantauan. Individu dengan kecemasan juga dilaporkan memiliki risiko hipertensi lebih tinggi dibandingkan yang tidak.
Mengapa Hal Ini Penting?
Temuan-temuan di atas menegaskan bahwa stres bukan hanya persoalan psikologis, melainkan juga faktor risiko kardiovaskular yang nyata. Stres secara independen berkaitan dengan hipertensi, menegaskan relevansi tekanan emosional terhadap risiko kardiovaskular, dan temuan ini mendukung dimasukkannya penilaian stres dalam skrining hipertensi.
Mengelola Stres untuk Jaga Tekanan Darah
Beberapa langkah yang umum direkomendasikan untuk mengelola stres dan menjaga tekanan darah tetap stabil:
- Olahraga teratur untuk menurunkan hormon stres
- Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau meditasi
- Tidur yang cukup dan berkualitas
- Membangun dukungan sosial yang kuat
- Memeriksakan tekanan darah secara rutin, terutama bagi yang memiliki tingkat stres tinggi secara berkelanjutan
Daftar Sumber Jurnal Ilmiah
- Inoue, K., et al. (2021). Elevated stress hormones linked to higher risk of high blood pressure and heart events. Hypertension, American Heart Association. [newsroom.heart.org]
- Marwaha, K. (2022). Examining the Role of Psychosocial Stressors in Hypertension. Journal of Preventive Medicine and Public Health, 55(6), 499–505.
- (2025). Evaluating the Effects of Stress, Depression, and Anxiety on Hypertension. PMC (National Library of Medicine).
- Nwanaji-Enwerem, U., et al. (2022). Relationship Between Psychosocial Stress and Blood Pressure: The National Heart, Lung, and Blood Institute Family Heart Study. SAGE Journals.
- Hu, B., Liu, X., Yin, S., Fan, H., Feng, F., Yuan, J. (2015). Effects of Psychological Stress on Hypertension in Middle-Aged Chinese: A Cross-Sectional Study. PLOS ONE. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0129163
- Stressing ‘mental stress’ in hypertension: a rural background study. PubMed.
- The relationship of stress and blood pressure effectors. PMC.
- Association Between High Perceived Stress Over Time and Incident Hypertension in Black Adults: Findings From the Jackson Heart Study. Journal of the American Heart Association (JAHA).
- The association between perceived stress and hypertension among Asian Americans. PMC / American Journal of Epidemiology.



Leave a Reply