Gunakan Komunikasi yang Mudah Dipahami Saat Menghadapi Anak Autisme
Oleh karena itu, orang tua perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Tujuannya bukan sekadar membuat anak berbicara, tetapi membantu anak memahami pesan, menyampaikan keinginan, dan mengungkapkan perasaannya dengan cara yang paling sesuai baginya.
1. Gunakan kalimat yang singkat dan jelas
Anak autisme mungkin mengalami kesulitan memahami kalimat yang terlalu panjang, memiliki banyak instruksi, atau menggunakan makna kiasan. Karena itu, gunakan kalimat sederhana yang langsung menjelaskan apa yang diharapkan.
Contohnya:
-
Hindari: “Ayo, cepat bereskan mainanmu, lalu cuci tangan, setelah itu kita makan.”
-
Lebih mudah dipahami: “Masukkan mainan ke kotak.” Setelah selesai, lanjutkan dengan, “Sekarang, cuci tangan.”
Instruksi yang diberikan satu per satu dapat membantu anak memproses informasi tanpa merasa kewalahan.
2. Berikan waktu kepada anak untuk merespons
Jangan terburu-buru mengulang pertanyaan atau menganggap anak tidak memahami perkataan orang tua ketika ia belum langsung menjawab.
Sebagian anak membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses bahasa, memahami pertanyaan, dan menyusun respons. Setelah berbicara, berikan jeda beberapa detik atau lebih sesuai kebutuhan anak.
Misalnya, ketika orang tua bertanya, “Mau minum apa?”, tunggulah respons anak. Jika anak belum menjawab, orang tua dapat menunjukkan pilihan seperti air putih atau susu, sesuai yang tersedia dan boleh diminum anak.
Hindari mendesak anak dengan banyak pertanyaan sekaligus karena hal tersebut dapat membuatnya semakin kesulitan merespons.
3. Gunakan bantuan visual seperti gambar atau gerakan
Sebagian anak lebih mudah memahami informasi yang dapat dilihat daripada hanya mendengar penjelasan lisan. Orang tua dapat menggunakan gambar, foto, simbol, benda nyata, atau gerakan untuk memperjelas pesan.
Contohnya:
-
Menunjukkan gambar gelas ketika mengajak anak minum.
-
Menggunakan gambar sikat gigi untuk menandai waktu menyikat gigi.
-
Menampilkan jadwal visual untuk aktivitas pagi, seperti mandi, berpakaian, sarapan, dan berangkat sekolah.
-
Menunjukkan gambar aktivitas berikutnya sebelum berpindah kegiatan.
Bantuan visual juga dapat membantu anak memahami perubahan rutinitas dan mengurangi kebingungan. Jika anak belum menggunakan bahasa lisan secara konsisten, kartu gambar atau alat komunikasi alternatif dapat digunakan untuk menyampaikan kebutuhan.
4. Hindari bahasa kiasan yang membingungkan
Sebagian anak autisme cenderung memahami kata-kata secara harfiah. Ungkapan yang biasa digunakan sehari-hari bisa membingungkan jika maknanya tidak sesuai dengan arti kata sebenarnya.
Contohnya:
-
Hindari: “Tunggu sebentar, ya, nanti.” tanpa penjelasan waktu yang jelas.
-
Lebih jelas: “Tunggu sampai Ibu selesai mencuci piring, lalu kita bermain.”
-
Hindari: “Jangan berisik!” jika anak belum memahami perilaku yang dimaksud.
-
Lebih jelas: “Gunakan suara pelan di dalam rumah.”
Gunakan instruksi yang konkret dan spesifik. Jika memungkinkan, tunjukkan juga contoh perilaku yang diharapkan.
5. Berikan pilihan sederhana
Memberikan pilihan membantu anak menyampaikan keinginannya dan belajar mengambil keputusan. Mulailah dengan dua pilihan yang jelas, bukan terlalu banyak pilihan sekaligus.
Misalnya:
-
“Mau baju merah atau biru?”
-
“Mau makan pisang atau roti?”
-
“Mau membaca buku atau bermain balok?”
Orang tua dapat menunjukkan kedua benda atau gambarnya sambil menyebutkan nama masing-masing. Berikan kesempatan kepada anak untuk menunjuk, mengucapkan kata, mengambil gambar, atau menggunakan cara komunikasi lain yang dikuasainya.
Pastikan pilihan tersebut benar-benar tersedia dan hargai jawaban anak.
6. Perhatikan bahasa tubuh dan respons anak
Komunikasi tidak selalu berupa kata-kata. Anak mungkin menunjukkan kebutuhan melalui gerakan, ekspresi wajah, menunjuk benda, membawa tangan orang tua ke suatu objek, atau menjauh dari lingkungan yang tidak nyaman.
Orang tua dapat mengamati pola tersebut untuk memahami maksud anak.
Misalnya, ketika anak menutup telinga dan berusaha meninggalkan ruangan yang ramai, ia mungkin sedang merasa terganggu oleh suara. Orang tua dapat mengurangi kebisingan atau mengajaknya ke tempat yang lebih tenang.
Namun, bahasa tubuh tidak selalu memiliki satu makna. Jika belum yakin, orang tua dapat menawarkan pilihan sederhana atau mengamati situasinya sebelum menyimpulkan apa yang dibutuhkan anak.
Penting: Jangan menjadikan kontak mata sebagai syarat agar anak dianggap mendengarkan. Anak dapat memahami komunikasi tanpa harus menatap mata lawan bicaranya.
7. Dengarkan dan hargai cara anak berkomunikasi
Tidak semua anak autisme dapat menyampaikan kebutuhan melalui ucapan. Sebagian menggunakan isyarat, gambar, tulisan, papan komunikasi, atau perangkat komunikasi elektronik.
Cara-cara tersebut tetap merupakan bentuk komunikasi yang bermakna. Orang tua sebaiknya tidak menahan kebutuhan anak hanya karena ia belum mengucapkan kata-kata tertentu.
Misalnya, jika anak menunjuk botol air untuk meminta minum, orang tua dapat merespons, “Kamu mau minum, ya,” kemudian membantu memenuhi kebutuhannya. Dengan cara ini, anak belajar bahwa komunikasinya dipahami dan dihargai.
Jika anak mengalami kesulitan komunikasi yang cukup besar, konsultasikan dengan terapis wicara atau tenaga profesional yang memahami komunikasi augmentatif dan alternatif (AAC). Penggunaan AAC dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak dan tidak perlu menunggu sampai anak mampu berbicara.
8. Gunakan komunikasi yang tenang dan konsisten
Nada suara yang terlalu keras, instruksi yang berubah-ubah, atau terlalu banyak orang berbicara sekaligus dapat membuat sebagian anak kesulitan memahami situasi.
Cobalah untuk:
-
Berbicara dengan nada tenang dan tidak mengintimidasi.
-
Mengurangi suara televisi atau gangguan lain ketika memberikan instruksi.
-
Menggunakan kata-kata yang konsisten untuk aktivitas sehari-hari.
-
Memberi tahu anak sebelum berpindah kegiatan, misalnya, “Lima menit lagi kita selesai bermain.”
-
Memastikan anak berada dalam kondisi yang cukup nyaman sebelum mengajaknya belajar atau berbicara.
Konsistensi membantu anak memahami apa yang akan terjadi, meskipun tetap perlu disesuaikan dengan situasi dan kemampuan masing-masing anak.
Contoh komunikasi sehari-hari
| Situasi | Cara yang bisa dicoba |
|---|---|
| Anak belum mau mandi | “Sekarang waktu mandi.” Tunjukkan gambar atau perlengkapan mandi. |
| Anak kesulitan meminta makanan | Tawarkan dua pilihan sambil menunjukkan makanannya. |
| Anak marah di tempat ramai | Kurangi rangsangan, bicara singkat, dan bantu anak mencari tempat yang lebih tenang. |
| Anak belum menjawab pertanyaan | Beri waktu untuk memproses dan merespons. |
| Anak menunjuk benda tanpa berbicara | Sebutkan nama benda, konfirmasi maksudnya, dan bantu memenuhi kebutuhannya. |
Kesimpulan
Menggunakan komunikasi yang mudah dipahami berarti menyesuaikan cara berbicara, memberikan instruksi yang jelas, menggunakan bantuan visual jika diperlukan, dan memberikan waktu bagi anak untuk merespons. Orang tua juga perlu menghargai berbagai bentuk komunikasi, baik melalui ucapan maupun cara nonverbal.
Setiap anak autisme memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, tidak ada satu cara komunikasi yang cocok untuk semua anak. Jika kesulitan komunikasi menghambat aktivitas sehari-hari, dukungan terapis wicara atau profesional perkembangan anak dapat membantu menentukan strategi yang sesuai.
Hal terpenting adalah membuat anak merasa bahwa dirinya didengarkan, dipahami, dan dapat menyampaikan kebutuhannya tanpa takut disalahkan.


Leave a Reply