Waspada! Kebiasaan Makan Tidak Sehat Bisa Meningkatkan Risiko Stroke
Stroke adalah salah satu penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di dunia. Di Amerika Serikat saja, lebih dari 795.000 orang mengalami stroke setiap tahunnya, dan sekitar 140.000 di antaranya meninggal dunia. Yang mengejutkan, para ahli memperkirakan hingga 80% kasus stroke sebenarnya dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup — dan salah satu faktor paling menentukan adalah pola makan.
Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan makan sehari-hari yang tampak sepele — camilan asin, gorengan, minuman manis, hingga makanan olahan — dapat menumpuk risiko dalam jangka panjang dan berujung pada stroke. Artikel ini mengulas kebiasaan makan tidak sehat yang perlu diwaspadai, didukung temuan dari berbagai jurnal ilmiah.
Bagaimana Pola Makan Memengaruhi Risiko Stroke?
Pola makan yang buruk dapat meningkatkan risiko stroke melalui beberapa mekanisme, seperti mendorong resistensi insulin, peradangan kronis, gangguan pembekuan darah (trombosis), gangguan fungsi endotel pembuluh darah, dan stres oksidatif. Selain itu, kelebihan asupan gizi (overnutrition) turut mempercepat munculnya obesitas, hipertensi, dislipidemia, dan diabetes — empat kondisi yang secara langsung menjadi faktor risiko utama stroke.
Kebiasaan Makan yang Perlu Diwaspadai
1. Konsumsi Garam (Natrium) Berlebihan
Makanan tinggi garam seperti keripik, makanan olahan, dan camilan asin dapat meningkatkan tekanan darah, yang merupakan faktor risiko stroke paling signifikan. Studi menunjukkan bahwa asupan natrium sebaiknya dibatasi hanya sekitar 2–3 gram per hari untuk menjaga risiko stroke tetap rendah.
2. Terlalu Banyak Daging Merah dan Daging Olahan
Daging merah dan daging olahan yang tinggi lemak jenuh terbukti dapat meningkatkan kadar kolesterol dan risiko penyakit jantung, yang pada akhirnya turut meningkatkan risiko stroke. Sebuah meta-analisis studi prospektif bahkan secara khusus mengaitkan konsumsi daging merah dengan peningkatan risiko stroke.
3. Produk Susu Tinggi Lemak dan Makanan Manis
Mentega, keju berlemak penuh, serta makanan dan minuman manis seperti soda, minuman energi, kue, dan permen dapat memengaruhi kadar gula darah dan berkontribusi pada diabetes — salah satu kondisi yang secara signifikan meningkatkan risiko stroke.
4. Pola Makan Rendah Buah dan Sayur
Sejumlah tinjauan sistematis (meta-analisis) terhadap studi kohort menemukan hubungan yang konsisten antara rendahnya konsumsi buah dan sayur dengan meningkatnya risiko stroke. Sebaliknya, setiap peningkatan konsumsi buah dan sayur berkaitan dengan penurunan risiko stroke.
5. Pola Makan Nabati yang “Tidak Sehat”
Penting dipahami, tidak semua pola makan berbasis nabati otomatis menyehatkan. Sebuah studi besar terhadap 116.969 orang yang dipublikasikan di Journal of the American College of Cardiology menemukan bahwa pola makan nabati yang tidak sehat — yang tinggi karbohidrat olahan, lemak jenuh, dan minuman manis — justru dikaitkan dengan risiko penyakit jantung (yang berhubungan erat dengan risiko stroke) yang 32% lebih tinggi dibandingkan pola makan nabati yang lebih sehat.
6. Kualitas Diet Secara Keseluruhan yang Rendah
Penelitian kohort besar bertajuk Multiethnic Cohort Study, yang melibatkan lebih dari 172.000 partisipan dan mencatat 3.548 kematian akibat stroke, menemukan bahwa kualitas pola makan yang rendah secara konsisten berkaitan dengan risiko kematian akibat stroke yang lebih tinggi, di mana indeks Healthy Eating Index (HEI-2010) menjadi prediktor terkuat.
7. Pola Makan Terkait Perilaku Makan Bermasalah
Studi terbaru di Prancis turut menyoroti bahwa perilaku makan adiktif (addictive-like eating) pada pasien stroke berkaitan dengan faktor-faktor risiko vaskular utama penyebab stroke, menunjukkan bahwa pola makan tidak sehat bisa saling terkait dengan masalah perilaku makan lainnya.
Bukti dari Studi Skala Global
Studi INTERSTROKE, penelitian kasus-kontrol besar yang mencakup 32 negara dan dipublikasikan di jurnal The Lancet, secara global mengidentifikasi faktor-faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi, termasuk pola makan, sebagai kontributor utama kejadian stroke akut di seluruh dunia — menegaskan bahwa masalah ini bukan hanya terjadi di negara maju, tetapi juga di negara berkembang seperti Indonesia.
Kabar Baik: Pola Makan Sehat Bisa Menurunkan Risiko
Di sisi lain, penelitian juga menunjukkan hal yang menggembirakan. Pola makan Mediterania yang kaya minyak zaitun, biji-bijian utuh, buah, sayur, dan kacang-kacangan, serta rendah kolesterol dan lemak jenuh, terbukti dapat menurunkan risiko stroke hingga 40% atau lebih pada pasien berisiko tinggi. Sebuah tinjauan payung (umbrella review) juga menemukan bahwa pola makan vegetarian yang sehat berkaitan dengan penurunan risiko stroke iskemik sebesar 32,9% dan penurunan risiko kejadian stroke secara umum sebesar 39,1%.
Selain itu, dalam studi besar terhadap puluhan ribu tenaga kesehatan di Amerika Serikat (US Health Professionals Study dan Nurses’ Health Study), orang yang menerapkan lima kebiasaan hidup sehat sekaligus — termasuk pola makan sehat, tidak merokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, dan membatasi alkohol — memiliki risiko stroke yang lebih rendah hingga 80% dibandingkan mereka yang tidak menerapkannya.
Kesimpulan
Kebiasaan makan tidak sehat — mulai dari konsumsi garam berlebih, daging olahan, makanan tinggi lemak jenuh, minuman manis, hingga kurangnya asupan buah dan sayur — terbukti secara ilmiah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko stroke. Kabar baiknya, risiko ini sangat mungkin diturunkan melalui perubahan pola makan yang lebih sehat, seperti menerapkan pola makan Mediterania atau pola makan berbasis nabati yang seimbang. Mengingat besarnya proporsi stroke yang sebenarnya dapat dicegah, menjaga pola makan sehat sejak dini merupakan investasi kesehatan jangka panjang yang sangat berharga.
Daftar Pustaka (Sumber Jurnal Ilmiah)
- Sacco, R.L., et al. Nutrition and the risk of stroke. The Lancet Neurology, 2012.
- O’Donnell, M.J., Chin, S.L., Rangarajan, S., et al. Global and regional effects of potentially modifiable risk factors associated with acute stroke in 32 countries (INTERSTROKE): a case-control study. The Lancet, 2016; 388:761–775.
- Harmon, B.E., et al. Low diet quality and the risk of stroke mortality: the multiethnic cohort study. European Journal of Clinical Nutrition, 2018.
- Diet and Stroke. Stroke (Jurnal American Heart Association), AHA Journals.
- Wahl, D., et al. Nutrition and Risk of Stroke. Nutrients, 2019; PMC6470893.
- Association of Vegetarian and Vegan Diets with Cardiovascular Health: An Umbrella Review of Meta-Analysis of Observational Studies and Randomized Trials. PMC10574056.
- Food Addiction: Prevalence, Severity, and Impact on Vascular Stroke Risk Factors in a French Hospital-Based Sample. PMC11676678.
- Effects of an Avocado-based Mediterranean Diet on Serum Lipids for Secondary Prevention after Ischemic Stroke Trial (ADD-SPISE): Study protocol. PMC8213277.
- Kaluza, J., Wolk, A., Larsson, S.C. Red meat consumption and risk of stroke: a meta-analysis of prospective studies. Stroke, 2012; 43:2556–2560.
- Dauchet, L., Amouyel, P., Dallongeville, J. Fruit and vegetable consumption and risk of stroke: a meta-analysis of cohort studies. Neurology, 2005; 65:1193–1197.



Leave a Reply