Sering Menunduk Main HP dan Risiko Stroke, Benarkah?
Keluhan “text neck” atau leher yang pegal akibat terlalu lama menunduk menatap layar ponsel sudah jadi hal umum di era digital. Tapi belakangan beredar kekhawatiran yang lebih serius: benarkah kebiasaan menunduk main HP bisa memicu stroke? Berikut penjelasannya berdasarkan sejumlah studi ilmiah.
Apa itu “Text Neck”?
Text neck adalah cedera akibat penggunaan berlebihan pada tulang belakang leher yang muncul dari tekanan berulang akibat posisi kepala menunduk ke depan dalam waktu lama saat menatap layar ponsel. Kondisi ini merupakan sindrom overuse yang biasanya disebabkan oleh cedera stres berulang pada tulang leher akibat posisi kepala yang menekuk dan condong ke depan saat lama-lama menatap layar gawai.
Sebuah laporan kasus dari Hong Kong mendokumentasikan seorang mahasiswi 25 tahun yang mengalami sakit kepala dan nyeri leher-bahu berulang selama lima tahun, yang memburuk drastis saat pandemi COVID-19 karena ia menghabiskan waktu 8-10 jam sehari untuk mengetik pesan di ponselnya serta mengikuti pembelajaran daring lewat laptop. Hasil rontgen memperlihatkan perubahan degeneratif pada sendi facet lehernya — tanda osteoartritis servikal di usia muda.
Kasus lain melibatkan pria 24 tahun berprofesi YouTuber yang mengalami nyeri leher dan kesemutan lengan kanan selama setahun akibat stres berulang dari posisi kepala menekuk ke depan saat lama menatap layar ponsel, yang berujung pada diagnosis spondilosis servikal dengan radikulopati C6.
Jadi, dari sisi ini, fakta: menunduk lama benar-benar bisa merusak struktur leher — sendi, cakram, dan saraf.
Lalu, Bagaimana dengan Stroke?
Ini bagian yang perlu diluruskan. Stroke akibat gangguan aliran darah di leher memang ada mekanismenya, tapi jalurnya berbeda dari sekadar “menunduk lihat HP”.
1. Bow Hunter’s Syndrome — lebih soal rotasi, bukan sekadar menunduk
Kondisi langka ini terjadi ketika stenosis atau kompresi dinamis arteri vertebralis muncul saat kepala melakukan rotasi atau ekstensi, dengan gejala mulai dari pusing sementara hingga stroke pada sirkulasi posterior otak. Pemicunya biasanya kelainan struktur tulang seperti osteofit, herniasi cakram, spondilosis servikal, atau pita jaringan ikat yang menekan arteri saat leher berputar. Penderitanya rata-rata berusia 58 tahun dengan dominasi laki-laki — jadi ini bukan kondisi yang tiba-tiba muncul pada anak muda yang sering menunduk lihat HP, melainkan biasanya terjadi pada orang dengan kelainan tulang leher yang sudah ada, lalu dipicu oleh gerakan rotasi kepala yang ekstrem.
2. Diseksi arteri servikal — jarang dan multifaktorial
Diseksi arteri karotis/vertebralis (CVAD) adalah penyebab stroke iskemik yang tergolong jarang dan tidak lazim, dengan prevalensi sekitar 2,5% dari populasi dunia dan paling sering dialami pada usia muda, di mana etiologinya multifaktorial namun sebagian besar dipicu oleh trauma minor atau sepele yang menyebabkan robekan spontan pada dinding arteri. Manipulasi leher yang mendadak dan keras (misalnya “kretek” leher paksa) tercatat sebagai salah satu pemicu — bukan posisi menunduk statis saat main HP.
3. Stroke iskemik secara umum
Perlu diingat, penyebab tersering stroke adalah penyumbatan arteri oleh gumpalan darah akibat plak kolesterol yang mengeras di dinding arteri — ini soal aterosklerosis, tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, dan gaya hidup, bukan soal postur menunduk.
Jadi, Mitos atau Fakta?
- Mitos: menunduk main HP secara langsung “menyumbat” pembuluh darah otak dan memicu stroke dalam pengertian umum.
- Fakta (dengan syarat): postur menunduk kronis merusak struktur leher (text neck, osteoartritis servikal, radikulopati) — dan kerusakan struktural leher yang parah (osteofit, spondilosis berat) bisa menjadi faktor predisposisi bagi kondisi langka seperti Bow Hunter’s Syndrome, yang baru bergejala saat leher diputar/ditekuk ekstrem, bukan saat sekadar menunduk melihat layar.
Dengan kata lain: risiko stroke akibat leher pada dasarnya butuh kombinasi kelainan struktural yang sudah ada plus gerakan pemicu tertentu (biasanya rotasi/ekstensi mendadak) — bukan sekadar kebiasaan menunduk main HP sehari-hari. Yang jauh lebih pasti terbukti berbahaya dari kebiasaan ini adalah kerusakan leher itu sendiri: nyeri kronis, osteoartritis dini, dan gangguan saraf.
Cara Mengurangi Risiko
- Angkat ponsel sejajar mata, hindari menunduk berlebihan dalam waktu lama.
- Ambil jeda tiap 20-30 menit untuk meregangkan leher.
- Hindari gerakan memutar leher secara tiba-tiba dan ekstrem, apalagi jika sudah punya keluhan leher kronis.
- Periksakan ke dokter bila muncul pusing berputar, gangguan penglihatan, atau baal yang muncul saat menggerakkan leher tertentu — ini gejala yang perlu dievaluasi, bukan sekadar pegal biasa.
Sumber Jurnal Ilmiah
- Chu, E.C.P. (2026). Text Neck-Induced Cervical Osteoarthritis in a Young Adult: A Case Report. Cureus. DOI: 10.7759/cureus.113297
- Chu, E.C.P. (2022). Preventing the progression of text neck in a young man: A case report. Radiology Case Reports, 17(3), 978-982. DOI: 10.1016/j.radcr.2021.12.053
- Pediatric Text Neck Syndrome. PMC10123387.
- Duan, G., Xu, J., Shi, J., Cao, Y. (2016). Advances in the Pathogenesis, Diagnosis and Treatment of Bow Hunter’s Syndrome: A Comprehensive Review of the Literature. Interventional Neurology, 5(1-2), 29-38. DOI: 10.1159/000444306
- Go, G., Hwang, S.H., Park, I.S., Park, H. (2013). Rotational Vertebral Artery Compression: Bow Hunter’s Syndrome. Journal of Korean Neurosurgical Society, 54(3), 243-245. DOI: 10.3340/jkns.2013.54.3.243
- Amran, M.Y. Diseksi Arteri Karotis dan Vertebralis sebagai Penyebab Transient Ischemic Attack dan Stroke. ResearchGate.
- Cloud, G.C., Markus, H.S. (2003). Diagnosis and management of vertebral artery stenosis. QJM: An International Journal of Medicine, 96(1), 27-54. DOI: 10.1093/qjmed/hcg003



Leave a Reply