Obesitas dan Risiko Stroke: Apa yang Perlu Diwaspadai?
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau berat badan—kondisi ini merupakan salah satu faktor risiko utama yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami stroke, baik stroke iskemik (akibat sumbatan pembuluh darah) maupun stroke hemoragik (akibat pecahnya pembuluh darah di otak).
Obesitas sebagai Faktor Risiko Stroke yang Sudah Terbukti
Berbagai studi epidemiologi besar secara konsisten menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk semua jenis stroke, dan hal ini telah dibuktikan oleh bukti global. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang mencakup sebelas studi kohort prospektif dengan total lebih dari 5,6 juta partisipan menegaskan kuatnya hubungan antara kelebihan berat badan/obesitas dan peningkatan risiko stroke.
Yang menarik, penelitian tersebut juga menemukan bahwa risiko stroke tetap meningkat pada semua fenotipe metabolik yang tidak sehat, terlepas dari angka indeks massa tubuh (IMT) seseorang. Ini berarti seseorang dengan berat badan “normal” namun memiliki gangguan metabolik (seperti resistensi insulin atau kadar lemak darah tidak normal) tetap berisiko tinggi terkena stroke.
Obesitas Perut (Abdominal Obesity) Lebih Berbahaya daripada Angka di Timbangan
Salah satu temuan penting dari studi INTERSTROKE—penelitian kasus-kontrol internasional yang melibatkan 22 negara—adalah bahwa obesitas abdominal, yang diukur melalui rasio lingkar pinggang terhadap pinggul pada tersier tertinggi, dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hingga 1,65 kali lipat. Studi ini juga mengidentifikasi bahwa sepuluh faktor risiko utama bersama-sama menyumbang hampir 90% dari total risiko stroke iskemik maupun hemoragik, dengan obesitas abdominal sebagai salah satu kontributor signifikan.
Temuan ini diperkuat oleh meta-analisis lain yang menunjukkan bahwa lingkar pinggang, rasio pinggang-pinggul, dan rasio pinggang-tinggi badan secara konsisten berasosiasi positif dengan risiko stroke, terutama stroke iskemik, dengan peningkatan risiko sekitar 18–40% untuk lingkar pinggang dan 21–44% untuk rasio pinggang-pinggul.
Lebih jauh, penelitian berbasis Framingham Heart Study yang mengikuti lebih dari 6.500 partisipan selama rata-rata 9,2 tahun menemukan bahwa rasio pinggang-pinggul yang lebih tinggi memprediksi peningkatan risiko stroke iskemik dalam 10 tahun ke depan, bahkan setelah disesuaikan dengan berbagai faktor risiko vaskular lain.
Risiko Ini Berlaku Juga pada Usia Muda
Obesitas abdominal tidak hanya berbahaya bagi kelompok usia lanjut. Studi SECRETO yang meneliti stroke iskemik kriptogenik (tanpa penyebab jelas) pada 345 pasien berusia 18–49 tahun menemukan bahwa rasio pinggang-pinggul pada tersier tertinggi berasosiasi dengan risiko stroke 2,81 kali lebih tinggi dibanding tersier terendah, bahkan setelah penyesuaian ketat terhadap faktor risiko vaskular lain.
Penelitian dari Columbia University pada komunitas Manhattan Utara juga menegaskan bahwa obesitas abdominal justru membawa risiko tertinggi pada kelompok usia di bawah 65 tahun, dan risiko ini lebih besar lagi pada populasi kulit hitam dan Hispanik yang memang memiliki angka stroke lebih tinggi.
Catatan Penting: “Paradoks Obesitas”
Menariknya, sejumlah studi observasional pada pasien yang sudah mengalami stroke justru menemukan fenomena yang disebut “paradoks obesitas”—yaitu angka kematian yang lebih rendah pada pasien stroke dengan IMT lebih tinggi. Namun, para peneliti menekankan bahwa temuan ini memiliki berbagai keterbatasan metodologis seperti desain studi observasional, ketidakakuratan IMT dalam mencerminkan obesitas sesungguhnya, dan bias seleksi, sehingga masih diperlukan uji klinis acak terkontrol yang lebih baik untuk menilai efek penurunan berat badan terhadap risiko stroke. Dengan kata lain, paradoks ini tidak mengubah fakta bahwa obesitas tetap menjadi faktor risiko utama terjadinya stroke.
Mengapa Obesitas Meningkatkan Risiko Stroke?
Secara umum, obesitas—khususnya obesitas perut—meningkatkan risiko stroke melalui beberapa mekanisme yang saling berkaitan, antara lain memicu hipertensi, resistensi insulin dan diabetes tipe 2, gangguan profil lemak darah (dislipidemia), peradangan kronis tingkat rendah, serta kondisi protrombotik yang mempermudah pembentukan gumpalan darah.
Langkah yang Bisa Diwaspadai
- Ukur lingkar pinggang, bukan hanya berat badan. Rasio pinggang-pinggul atau lingkar pinggang memberikan gambaran risiko yang lebih akurat dibanding IMT saja.
- Kendalikan faktor risiko penyerta, seperti tekanan darah tinggi, gula darah, dan kolesterol, karena obesitas sering muncul bersamaan dengan kondisi-kondisi ini.
- Turunkan berat badan secara bertahap melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik rutin, meski penelitian menunjukkan area ini masih butuh lebih banyak bukti uji klinis acak.
- Periksa kesehatan secara berkala, terutama bagi yang memiliki riwayat keluarga stroke atau penyakit kardiovaskular.
Daftar Pustaka (Sumber Jurnal Ilmiah)
- Oesch L, Tatlisumak T, Arnold M, Sarikaya H. Obesity paradox in stroke – Myth or reality? A systematic review. PLoS ONE. 2017;12(3):e0171334. DOI: 10.1371/journal.pone.0171334
- Meng M, Guo Y, Kuang Z, Liu L, Cai Y, Ni X. Risk of Stroke Among Different Metabolic Obesity Phenotypes: A Systematic Review and Meta-Analysis. Frontiers in Cardiovascular Medicine. 2022;9:844550. DOI: 10.3389/fcvm.2022.844550
- O’Donnell MJ, et al. (INTERSTROKE Study). Risk factors for ischaemic and intracerebral haemorrhagic stroke in 22 countries. The Lancet. 2010.
- Sanak D, et al. (SECRETO Study Group). Obesity and the Risk of Cryptogenic Ischemic Stroke in Young Adults. Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases. 2022;31(5):106380. DOI: 10.1016/j.jstrokecerebrovasdis.2022.106380
- Measures of Abdominal Adiposity and Risk of Stroke: A Dose-Response Meta-Analysis. Biomedical and Environmental Sciences.
- Aparicio HJ, et al. Waist-to-hip ratio predicts 10-year risk for ischemic stroke (Framingham Heart Study). Dipresentasikan di International Stroke Conference, 2019.
- Columbia University Irving Medical Center. Study Finds Abdominal Obesity A Stroke Risk Factor (berdasarkan Northern Manhattan Stroke Study), dipublikasikan di jurnal Stroke.



Leave a Reply