Kenali Faktor Risiko Penyakit Kronis yang Sering Dianggap Sepele
Penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit ginjal kronis, hingga kanker kini menjadi penyebab utama kematian dan beban kesehatan di berbagai negara. Banyak orang sudah familiar dengan faktor risiko “klasik” seperti merokok, pola makan tidak sehat, dan kurang olahraga. Namun ada sejumlah faktor risiko lain yang sebenarnya berkontribusi besar terhadap munculnya penyakit kronis, tetapi sering dianggap remeh dalam kehidupan sehari-hari: kurang tidur, stres kronis berkepanjangan, dan gaya hidup minim gerak (sedentari). Artikel ini merangkum temuan dari berbagai jurnal ilmiah mengenai faktor-faktor tersebut.
1. Gaya Hidup Sedentari (Minim Gerak)
Kurang aktivitas fisik sering dianggap hanya soal “malas olahraga”, padahal dampaknya jauh lebih dalam secara fisiologis. Sebuah artikel ulasan di Korean Journal of Family Medicine menjelaskan bahwa gaya hidup sedentari mengganggu metabolisme lipid, memengaruhi jalur hormon pertumbuhan serta kadar hormon seks yang berkaitan dengan risiko kanker terkait hormon, dan meningkatkan penumpukan lemak tubuh serta penanda peradangan kronis yang pada akhirnya turut meningkatkan risiko kanker.
Data dari CDC Amerika Serikat juga menempatkan kurangnya aktivitas fisik sebagai satu dari empat faktor risiko utama yang dapat dicegah untuk penyakit kronis, bersama dengan merokok, pola makan buruk, dan konsumsi alkohol berlebihan. Keempatnya bersama-sama disebut berkontribusi pada lebih dari separuh kematian akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah, termasuk kanker, penyakit paru kronis, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.
Sebuah studi observasional pada populasi dewasa yang dipublikasikan di jurnal Bioinformation (2026) terhadap 1.248 orang dewasa usia 25–74 tahun menemukan bahwa aktivitas fisik rendah, kelebihan berat badan/obesitas, dan dislipidemia merupakan faktor risiko yang paling sering muncul, dan hanya 4,8% partisipan yang sama sekali tidak memiliki faktor risiko teridentifikasi — sementara hampir 29% memiliki lima atau lebih faktor risiko yang menumpuk bersamaan.
BELI SUPLEMEN SUPERFOOD DISINI!!
2. Kurang Tidur atau Tidur Berlebihan
Tidur sering dianggap sekadar waktu istirahat, padahal durasi dan kualitas tidur berkaitan erat dengan risiko penyakit kronis. Studi kohort besar EPIC-Potsdam di Jerman yang dipublikasikan di PLOS ONE menemukan bahwa tidur singkat (kurang dari 6 jam per hari) dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kronis secara keseluruhan sebesar 30%, termasuk risiko stroke yang meningkat dua kali lipat dan risiko kanker yang meningkat lebih dari 40% dibandingkan kelompok dengan durasi tidur rata-rata (7 hingga kurang dari 8 jam).
Temuan ini juga didukung oleh studi kohort Whitehall II di Inggris (dipublikasikan di PLOS Medicine) yang mengikuti partisipan selama 25 tahun. Studi ini menunjukkan bahwa tidur singkat pada usia 50, 60, dan 70 tahun berkaitan dengan risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit kronis dan multimorbiditas (memiliki lebih dari satu penyakit kronis sekaligus).
Analisis skala besar lain yang menggunakan data Behavioral Risk Factor Surveillance System Amerika Serikat terhadap lebih dari 1,1 juta partisipan (dipublikasikan di jurnal Sleep Medicine) menemukan bahwa baik tidur yang terlalu singkat maupun terlalu panjang berkaitan secara signifikan dengan 11 jenis penyakit kronis, termasuk obesitas, diabetes, asma, PPOK, radang sendi, penyakit ginjal, penyakit jantung koroner, stroke, dan kanker — dengan hubungan yang lebih kuat ditemukan pada perempuan dan kelompok usia 18–64 tahun.
Studi berbasis perangkat wearable dalam program All of Us Research Program yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine turut mengonfirmasi bahwa pola tidur — mencakup durasi, tahapan tidur, dan keteraturannya — berkaitan erat dengan kejadian penyakit kronis. Studi ini mencatat bahwa partisipan dengan rata-rata tidur 5 jam per hari memiliki risiko hipertensi 29% lebih tinggi dan risiko gangguan depresi mayor 64% lebih tinggi dibandingkan partisipan dengan rata-rata tidur mendekati 7 jam.
3. Stres Kronis dan Disregulasi Hormon Kortisol
Stres sering dipandang sebagai masalah psikologis semata, padahal secara biologis stres kronis dapat memicu peradangan dan gangguan metabolik yang mendasari banyak penyakit kronis. Penelitian klasik yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menunjukkan bahwa stres psikologis kronis berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi untuk depresi, penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit autoimun, infeksi saluran pernapasan atas, hingga lambatnya penyembuhan luka — salah satu mekanismenya diduga melalui resistensi reseptor glukokortikoid yang membuat tubuh gagal meredam peradangan secara efektif.
Ulasan ilmiah lain di jurnal PMC (2026) merangkum bukti epidemiologis bahwa stres kronis berkaitan kuat dengan diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular, baik dalam studi potong lintang maupun studi jangka panjang (longitudinal), sehingga pengelolaan stres psikologis dipandang sebagai target terapi yang berpotensi dapat dimodifikasi untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Sebuah studi cross-sectional yang dipublikasikan di PMC juga menemukan kaitan antara stres psikologis kronis dan kadar kortisol rambut (sebagai penanda biologis stres jangka panjang) dengan luaran metabolik dan komplikasi mikrovaskular pada penderita diabetes tipe 2, memperkuat dugaan bahwa disregulasi kortisol menjadi salah satu jalur biologis yang menghubungkan stres dengan perburukan penyakit metabolik.
Ulasan naratif di jurnal Heart and Mind (2024) turut menjelaskan bahwa pelepasan kortisol berlebihan saat stres kronis dapat mendorong proliferasi otot polos pembuluh darah dan perkembangan plak aterosklerosis, serta menurunkan ekspresi gen respons imun antivirus — mekanisme yang pada akhirnya meningkatkan kerentanan terhadap penyakit kardiovaskular.
4. Mengapa Faktor-Faktor Ini Sering Diabaikan?
Berbeda dari merokok atau obesitas yang dampaknya lebih mudah terlihat dan sudah lama menjadi target kampanye kesehatan masyarakat, kurang tidur, stres, dan minim gerak cenderung dianggap sebagai bagian “normal” dari rutinitas modern. Dampaknya pun biasanya baru terasa setelah bertahun-tahun, bukan seketika, sehingga orang cenderung menunda perubahan gaya hidup. Padahal, sejumlah studi di atas menunjukkan bahwa faktor-faktor ini dapat saling tumpang tindih dan memperkuat satu sama lain — misalnya, stres kronis dapat mengganggu kualitas tidur, dan kurang tidur pada gilirannya dapat meningkatkan kadar hormon stres serta mendorong gaya hidup yang makin sedentari.
5. Kesimpulan
Pencegahan penyakit kronis tidak cukup hanya dengan berhenti merokok atau mengatur pola makan. Tidur yang cukup dan berkualitas, pengelolaan stres yang baik, serta aktivitas fisik rutin sama pentingnya sebagai bagian dari strategi pencegahan jangka panjang. Mengenali faktor-faktor risiko yang sering dianggap sepele ini adalah langkah awal untuk mengambil tindakan pencegahan yang lebih menyeluruh, alih-alih menunggu gejala penyakit kronis benar-benar muncul.
BELI SUPLEMEN SUPERFOOD DISINI!!
Daftar Referensi (Sumber Jurnal Ilmiah)
- Park, J.H., et al. Sedentary lifestyle: overview of updated evidence of potential health risks. Korean Journal of Family Medicine.
- The Burden of Chronic Disease. Mayo Clinic Proceedings: Innovations, Quality & Outcomes, 2023.
- Assessment of risk factors associated with common chronic diseases in an adult population. Bioinformation, 22(2), 2026, hlm. 839–845. doi: 10.6026/973206300220839
- von Ruesten, A., Weikert, C., Fietze, I., & Boeing, H. (2012). Association of Sleep Duration with Chronic Diseases in the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC)-Potsdam Study. PLOS ONE. doi: 10.1371/journal.pone.0030972



Leave a Reply