Jangan Sepelekan! Kurang Olahraga Bisa Meningkatkan Risiko Stroke, Ini Penjelasan Medisnya
Sering merasa malas bergerak atau kebanyakan duduk seharian? Hati-hati, kebiasaan ini ternyata bukan sekadar soal berat badan — tapi juga bisa meningkatkan risiko terkena stroke.
Kenapa Kurang Olahraga Berbahaya untuk Otak?
Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, baik karena penyumbatan (stroke iskemik) maupun pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Kurangnya aktivitas fisik disebut sebagai salah satu faktor risiko utama yang bisa dimodifikasi untuk stroke, artinya risikonya bisa diturunkan hanya dengan mengubah gaya hidup.
Secara medis, olahraga membantu mencegah stroke melalui beberapa cara:
- Mencegah faktor risiko lain, seperti obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes — yang semuanya erat kaitannya dengan stroke.
- Memperbaiki fungsi pembuluh darah (fungsi endotel) sehingga darah mengalir lebih lancar.
- Menurunkan peradangan dalam tubuh serta mengurangi penggumpalan darah (agregasi platelet), yang bila dibiarkan dapat memicu penyumbatan pembuluh darah otak.
Kabar Baiknya: Tidak Perlu Olahraga Berat
Penelitian menunjukkan bahwa bahkan aktivitas fisik dalam jumlah kecil pun sudah bisa membantu menurunkan risiko stroke. Sebuah studi kohort besar di Asia bahkan menemukan bahwa aktivitas fisik tingkat sedang setiap hari sudah cukup untuk mendapatkan efek perlindungan maksimal terhadap risiko stroke — jadi tidak harus olahraga ekstrem atau berjam-jam.
BELI OBATNYA DISINI!!
Bukan Cuma soal Kena Stroke, tapi Juga Dampak Setelahnya
Yang tak kalah penting, kurang gerak sebelum terkena stroke juga terbukti berkaitan dengan kondisi pasien setelah stroke. Sebuah penelitian di Swedia menemukan bahwa orang yang kurang aktif secara fisik sebelum terkena stroke cenderung lebih bergantung pada bantuan orang lain untuk aktivitas sehari-hari (seperti makan, mandi, atau berpakaian) tiga bulan setelah stroke terjadi, dibandingkan mereka yang lebih aktif.
Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?
Beberapa langkah sederhana yang bisa mulai diterapkan sehari-hari:
- Jalan kaki minimal 20–30 menit setiap hari
- Kurangi waktu duduk terlalu lama, selingi dengan berdiri atau bergerak setiap 1 jam
- Pilih tangga daripada lift jika memungkinkan
- Lakukan aktivitas fisik ringan-sedang secara rutin, tidak harus di gym
Kesimpulan
Kurang olahraga bukan hal sepele — dampaknya bisa meningkatkan risiko stroke sekaligus memperberat kondisi pemulihan jika stroke benar-benar terjadi. Untungnya, cukup dengan aktivitas fisik ringan hingga sedang secara rutin, risiko ini bisa ditekan secara signifikan. Mulailah bergerak dari sekarang, sebelum menyesal di kemudian hari.
Sumber Jurnal Ilmiah
- Lee, I.M., Hennekens, C.H., Berger, K., Buring, J.E., & Manson, J.E. (2003). Physical Activity and Stroke Risk: A Meta-Analysis. Stroke, 34, 2475–2482.
- Kubota, Y., Iso, H., Yamagishi, K., Sawada, N., & Tsugane, S. (2017). Daily Total Physical Activity and Incident Stroke. Stroke, American Heart Association Journals. DOI: 10.1161/STROKEAHA.117.017560
- Physical inactivity before stroke is associated with dependency in basic activities of daily living 3 months after stroke. (2023). Frontiers in Neurology. DOI: 10.3389/fneur.2023.1094232
- Strain, T., et al. Physical Inactivity and Non-Communicable Disease Burden in Low-, Middle-, and High-Income Countries. PMC (PubMed Central), NCBI.
- Association between total and leisure time physical activity and risk of myocardial infarction and stroke – a Swedish cohort study. PMC (PubMed Central), NCBI.



Leave a Reply