Bukan Hanya Hipertensi, Kebiasaan Ini Juga Bisa Meningkatkan Risiko Stroke
Hipertensi memang dikenal luas sebagai “biang keladi” utama stroke, tetapi penelitian ilmiah menunjukkan bahwa banyak kebiasaan sehari-hari lain—yang sering dianggap sepele—ternyata juga berkontribusi besar terhadap risiko serangan otak ini. Berikut ulasannya, lengkap dengan rujukan jurnal ilmiah.
1. Kurang Tidur atau Tidur Terlalu Larut
Tidur kurang dari 6 jam per malam secara konsisten terbukti meningkatkan risiko gejala stroke, bahkan pada orang dengan berat badan normal dan tanpa faktor risiko besar lainnya. Studi kohort REGARDS yang melibatkan lebih dari 30.000 orang dewasa menemukan bahwa durasi tidur singkat secara mandiri dapat mendahului munculnya faktor risiko stroke tradisional lainnya berdasarkan analisis terhadap 5.666 orang yang diikuti selama beberapa tahun dalam studi besar tersebut. Kekurangan tidur diduga memicu disfungsi endotel pembuluh darah, salah satu mekanisme yang dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah otak.
2. Terlalu Banyak Duduk (Perilaku Sedentari)
Kebiasaan duduk atau berbaring dalam waktu lama dengan aktivitas fisik minimal kini diakui sebagai faktor risiko tersendiri untuk berbagai penyakit kronis, termasuk stroke—terlepas dari seberapa aktif seseorang di waktu lainnya. Perilaku sedentari telah dikenali sebagai faktor risiko independen untuk berbagai kondisi kronis di luar penyakit kardiovaskular, diabetes, dan gangguan pencernaan, dan tinjauan sistematis terbaru juga menunjukkan bahwa durasi duduk yang lama berkaitan dengan peningkatan risiko stroke.
3. Merokok
Merokok bukan hanya merusak paru-paru, tetapi juga melipatgandakan risiko stroke. Merokok dilaporkan dapat menggandakan risiko stroke, dan seseorang yang merokok 20 batang sehari memiliki risiko enam kali lebih tinggi dibandingkan bukan perokok. Yang lebih mengkhawatirkan, kombinasi merokok dan hipertensi menghasilkan efek gabungan yang melampaui efek masing-masing faktor secara terpisah, terutama pada perempuan dengan stroke iskemik.
4. Pola Makan Tinggi Garam dan Rendah Serat
Asupan garam berlebih terbukti berhubungan linear dengan peningkatan risiko stroke, sementara konsumsi buah dan sayur justru bersifat protektif. Konsumsi buah dan sayur dalam jumlah tinggi dapat menurunkan risiko stroke hingga 30%, sedangkan setiap penambahan 5 gram garam per hari meningkatkan risiko sebesar 23%.
5. Konsumsi Alkohol Berlebihan
Alkohol memiliki hubungan yang kompleks dengan risiko kardiovaskular. Berbagai penelitian epidemiologis menunjukkan pola kurva berbentuk U antara konsumsi alkohol dan kematian akibat penyakit jantung koroner, di mana konsumsi rendah hingga sedang justru berkaitan dengan angka kematian yang lebih rendah—namun konsumsi berlebihan tetap menjadi faktor risiko nyata bagi stroke, terutama pada populasi usia muda dan paruh baya.
6. Obesitas dan Kurang Aktivitas Fisik
Kelebihan berat badan dan minimnya olahraga sering muncul bersamaan sebagai dua kebiasaan yang saling memperkuat risiko. Pada pasien stroke usia muda (18–55 tahun), faktor risiko yang paling sering ditemukan meliputi kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, hipertensi arteri, dislipidemia, dan obesitas—menunjukkan bahwa kombinasi kebiasaan gaya hidup ini sama pentingnya untuk diwaspadai seperti hipertensi itu sendiri.
7. Stres Kronis
Stres berkepanjangan turut masuk dalam daftar faktor gaya hidup yang berkontribusi terhadap risiko stroke, meskipun mekanismenya sering bekerja secara tidak langsung—melalui peningkatan tekanan darah, gangguan pola tidur, hingga mendorong perilaku tidak sehat lain seperti merokok atau makan berlebihan.
Kesimpulan
Stroke bukan semata soal tekanan darah tinggi. Kombinasi kurang tidur, gaya hidup sedentari, merokok, pola makan tinggi garam, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, dan stres kronis sama-sama berperan dalam meningkatkan risiko. Kabar baiknya, sebagian besar faktor ini bersifat modifiable—dapat diubah melalui perbaikan gaya hidup, dan penelitian menunjukkan hingga 80% kasus stroke berpotensi dicegah melalui langkah tersebut sebagaimana didokumentasikan dengan baik bahwa mayoritas kasus stroke dapat dicegah lewat perubahan gaya hidup dan pengendalian faktor risiko yang dapat dimodifikasi.
Sumber Jurnal Ilmiah
- Kelly-Hayes M, et al. Lifestyle factors and stroke risk: Exercise, alcohol, diet, obesity, smoking, drug use, and stress. Current Atherosclerosis Reports. Springer Nature Link.
- Objectives — Stroke Risk Factor Awareness. Frontiers in Public Health, 2022; doi: 10.3389/fpubh.2022.891073.
- Rolfs A, et al. Lifestyle Risk Factors for Ischemic Stroke and Transient Ischemic Attack in Young Adults — Stroke in Young Fabry Patients (sifap1) Study. Stroke, American Heart Association Journals, 2013; doi: 10.1161/STROKEAHA.112.665190.
- Two Tier Prediction of Stroke Using Artificial Neural Networks and Support Vector Machines. arXiv:2003.08354.
- Influences of Daily Life Habits on Risk Factors of Stroke Based on Decision Tree and Correlation Matrix. PMC7285386.
- Modifiable lifestyle risk factors for stroke among a high risk hypertensive population in Greater Kampala, Uganda. PMC5716002.
- Boehme AK, Esenwa C, Elkind MSV. Stroke Risk Factors, Genetics, and Prevention. Circulation Research, American Heart Association Journals, 2017; doi: 10.1161/CIRCRESAHA.116.308398.
- Extended Risk Factors for Stroke Prevention. ScienceDirect, 2019.
- Comprehensive strategies for stroke prevention: A narrative review of population-level risk factor mitigation. PMC13524411.
10–18. Ruiter M, et al. Hasil studi REGARDS (Reasons for Geographic and Racial Differences in Stroke) tentang durasi tidur dan risiko stroke, dipresentasikan pada Annual Meeting of the Associated Professional Sleep Societies (SLEEP), 2012. - Impact of Replacing Sedentary Behavior with Physical Activity and Sleep on Stroke Risk. Nature and Science of Sleep, Dove Press.



Leave a Reply