Gangguan bicara merupakan salah satu masalah yang cukup sering dialami setelah stroke. Pasien mungkin menjadi sulit berbicara, bicara pelo, kesulitan menemukan kata, atau sulit memahami pembicaraan. Kondisi ini dapat berbeda pada setiap orang, tergantung bagian otak yang terdampak dan tingkat kerusakannya.
Kabar baiknya, kemampuan komunikasi dapat mengalami perbaikan melalui rehabilitasi yang tepat dan latihan yang konsisten.
Jenis Gangguan Bicara Setelah Stroke
1. Afasia
Afasia terjadi ketika stroke memengaruhi area otak yang berperan dalam bahasa. Pasien dapat mengalami kesulitan:
menemukan kata yang ingin diucapkan,
memahami perkataan orang lain,
membaca,
menulis,
atau menyusun kalimat.
Sebagian pasien sebenarnya mengetahui apa yang ingin disampaikan, tetapi kesulitan mengungkapkannya.
2. Disartria
Disartria terjadi ketika otot yang digunakan untuk berbicara menjadi lemah atau sulit dikendalikan. Akibatnya, suara pasien dapat terdengar:
pelo,
lambat,
tidak jelas,
terlalu pelan,
atau terdengar seperti bergumam.
3. Apraxia bicara
Pada kondisi ini, pasien mengetahui kata yang ingin diucapkan tetapi mengalami kesulitan mengoordinasikan gerakan bibir, lidah, dan mulut untuk menghasilkan suara yang tepat.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
1. Jalani terapi wicara
Terapi wicara dan bahasa merupakan bagian penting dari rehabilitasi stroke. Terapis akan menilai jenis gangguan yang dialami dan menyusun latihan sesuai kebutuhan pasien.
Latihan dapat mencakup pengucapan suara, menyusun kata dan kalimat, memahami bahasa, membaca, menulis, serta menggunakan metode komunikasi alternatif bila diperlukan.
2. Latihan secara rutin
Kemajuan tidak selalu terjadi dengan cepat. Latihan yang dilakukan secara teratur sesuai program terapis dapat membantu pasien menggunakan kemampuan komunikasinya secara bertahap.
Latihan sederhana di rumah dapat berupa:
menyebutkan nama benda di sekitar,
membaca kata atau kalimat pendek,
mengulang kata yang diberikan terapis,
menyanyikan lagu yang familiar,
atau menjawab pertanyaan sederhana.
Latihan sebaiknya mengikuti kemampuan pasien dan tidak dipaksakan ketika pasien sudah sangat lelah.
3. Berikan waktu saat pasien berbicara
Jangan terburu-buru menyelesaikan kalimat pasien. Berikan kesempatan untuk mencari kata dan menyampaikan maksudnya.
Hindari mengatakan, “Bukan itu,” atau terus-menerus mengoreksi setiap kesalahan. Yang lebih penting adalah membantu pasien berkomunikasi tanpa membuatnya merasa tertekan.
Jika berbicara masih sulit, pasien dapat dibantu menggunakan:
tulisan,
gambar,
gerakan tangan,
papan komunikasi,
atau perangkat komunikasi tertentu.
Metode ini bukan berarti pasien menyerah untuk berbicara. Sebaliknya, komunikasi alternatif dapat membantu pasien tetap berinteraksi selama kemampuan bicaranya sedang dipulihkan.
5. Kurangi gangguan saat berbicara
Matikan televisi atau radio ketika sedang berbicara dengan pasien. Duduk menghadap pasien dan gunakan kalimat yang jelas serta sederhana.
Jika pasien kesulitan memahami pertanyaan panjang, gunakan pertanyaan yang lebih singkat dan berikan waktu untuk menjawab.
6. Libatkan keluarga dalam terapi
Keluarga dapat menjadi bagian penting dari latihan komunikasi sehari-hari. Terapis wicara dapat mengajarkan keluarga cara memberikan bantuan yang sesuai.
Yang perlu diingat, berbicara dengan pasien stroke tetaplah berbicara kepada orang dewasa. Hindari memperlakukan pasien seperti anak kecil hanya karena kemampuan bicaranya menurun.
Apakah Gangguan Bicara Bisa Pulih?
Pemulihan sangat bervariasi. Sebagian pasien mengalami perbaikan dalam beberapa minggu atau bulan, sementara pasien lain membutuhkan rehabilitasi lebih lama.
Kecepatan pemulihan dipengaruhi oleh lokasi dan luas kerusakan otak, jenis gangguan komunikasi, kondisi kesehatan, serta intensitas dan konsistensi rehabilitasi.
Karena itu, jangan membandingkan perkembangan satu pasien dengan pasien lainnya.
Kapan Harus Waspada?
Jika seseorang tiba-tiba mengalami gangguan bicara baru, terutama disertai wajah mencong, kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh, gangguan penglihatan, kehilangan keseimbangan, atau sakit kepala hebat mendadak, jangan menganggapnya sebagai gangguan sisa stroke biasa.
Segera cari pertolongan medis karena gejala tersebut dapat menandakan stroke baru.
Kesimpulan
Gangguan bicara setelah stroke dapat berupa kesulitan menggunakan bahasa, bicara pelo, atau kesulitan mengoordinasikan gerakan untuk berbicara. Penanganannya perlu disesuaikan dengan penyebabnya, terutama melalui terapi wicara, latihan rutin, dukungan keluarga, dan komunikasi yang sabar.
Yang terpenting, jangan mengukur keberhasilan hanya dari seberapa cepat pasien kembali berbicara. Setiap usaha untuk berkomunikasi merupakan bagian dari proses pemulihan.
Leave a Reply