Belanja hemat bebas ongkir

Jangan Memaksa Anak Autism untuk “Terlihat Normal”

Anak dengan autisme memiliki cara yang berbeda dalam berkomunikasi, belajar, berinteraksi, dan merespons lingkungan. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memaksa anak untuk selalu berperilaku seperti anak-anak lain hanya agar terlihat normal di mata orang lain.

Tujuan utama mendampingi anak autisme bukan mengubahnya menjadi orang lain, melainkan membantu anak berkembang, berkomunikasi, merasa aman, dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih nyaman dan mandiri.

1. Terima cara anak mengekspresikan dirinya

Sebagian anak autisme memiliki kebiasaan atau perilaku yang berbeda, misalnya mengepakkan tangan ketika senang, mengulang kata-kata, berjalan mondar-mandir, atau lebih menyukai aktivitas tertentu.

Selama perilaku tersebut aman dan tidak mengganggu kesejahteraan anak, orang tua tidak perlu langsung melarangnya hanya karena terlihat berbeda.

Contohnya, ketika anak mengepakkan tangan karena merasa gembira, orang tua tidak harus memaksanya berhenti. Perilaku tersebut bisa menjadi salah satu cara anak mengekspresikan emosi atau mengatur rangsangan yang dirasakannya.

Namun, jika suatu perilaku menyebabkan cedera atau membahayakan anak, orang tua perlu mencari penyebabnya dan berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk menemukan cara yang aman dalam membantu anak.

2. Jangan memaksa anak melakukan kontak mata

Sebagian anak autisme merasa tidak nyaman ketika diminta terus-menerus menatap mata orang lain. Memaksakan kontak mata dapat membuat anak merasa tertekan dan justru mengganggu kemampuannya untuk mendengarkan atau memahami percakapan.

Orang tua dapat mengajarkan keterampilan berkomunikasi tanpa menjadikan kontak mata sebagai syarat utama.

Misalnya, ketika berbicara dengan anak, orang tua bisa menggunakan kalimat sederhana, menyebut namanya dengan lembut, dan memberikan waktu agar anak memproses informasi. Anak tetap dapat mendengarkan atau memahami orang lain meskipun tidak menatap mata secara langsung.

3. Hindari membandingkan anak dengan anak lain

Setiap anak memiliki kemampuan, kebutuhan, dan kecepatan perkembangan yang berbeda. Membandingkan anak autisme dengan saudara atau teman seusianya dapat membuat orang tua merasa kecewa dan membuat anak mengalami tekanan yang tidak perlu.

Daripada mengatakan, “Mengapa kamu tidak bisa seperti temanmu?”, lebih baik perhatikan perkembangan anak dibandingkan dengan kemampuan dirinya sendiri sebelumnya.

Contohnya, anak yang sebelumnya hanya menunjuk benda mungkin mulai menggunakan gambar untuk meminta sesuatu. Meskipun terlihat sederhana, hal tersebut merupakan kemajuan penting dalam komunikasi.

Kemajuan kecil tetap berarti dan layak diapresiasi.

4. Jangan memaksa anak bersosialisasi secara berlebihan

Sebagian anak autisme membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman berada di lingkungan sosial. Keramaian, suara keras, atau interaksi yang terlalu intens dapat membuat mereka kewalahan.

Orang tua tidak perlu memaksa anak untuk selalu menyapa, berjabat tangan, bermain dalam kelompok besar, atau mengikuti semua kegiatan sosial.

Sebagai gantinya, kenalkan interaksi sosial secara bertahap sesuai kenyamanan anak. Misalnya, mulai dari bermain bersama satu anak yang sudah dikenal, melakukan aktivitas yang disukai bersama, atau berada di lingkungan yang lebih tenang.

Anak juga perlu diajarkan keterampilan sosial yang berguna, seperti menyampaikan keinginan, meminta bantuan, dan menghormati batasan orang lain. Keterampilan ini dapat dilatih tanpa memaksa anak menjadi pribadi yang selalu banyak bicara atau mudah bergaul.

5. Pahami bahwa tantrum atau meltdown bukan selalu bentuk kenakalan

Ketika anak menangis keras, menutup telinga, berteriak, atau berusaha menjauh dari lingkungan, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggapnya sebagai perilaku nakal.

Pada sebagian anak autisme, kondisi tersebut dapat berupa meltdown, yaitu respons ketika anak mengalami kewalahan akibat rangsangan sensorik, kesulitan berkomunikasi, perubahan rutinitas, kelelahan, atau tekanan emosional.

Hal yang dapat dilakukan orang tua antara lain:

  • Mengurangi suara, cahaya, atau rangsangan yang membuat anak kewalahan.

  • Memberikan ruang yang aman dan tidak terlalu ramai.

  • Berbicara dengan tenang menggunakan kalimat singkat.

  • Tidak memaksa anak menjelaskan perasaannya ketika belum mampu melakukannya.

  • Membantu anak mengenali pemicu dan cara menenangkan diri setelah kondisinya membaik.

Jika anak berisiko melukai diri sendiri atau orang lain, utamakan keselamatan dan mintalah bantuan profesional untuk menyusun strategi penanganan yang sesuai.

6. Ajarkan keterampilan tanpa menghilangkan jati diri anak

Tidak memaksa anak terlihat normal bukan berarti membiarkan anak tanpa bimbingan. Anak tetap perlu belajar keterampilan yang membantunya hidup lebih mandiri dan aman.

Misalnya, anak dapat diajarkan cara meminta sesuatu, menyampaikan rasa tidak nyaman, menunggu giliran, menjaga kebersihan diri, atau memahami aturan keselamatan. Pengajaran sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan anak, dilakukan secara bertahap, dan menggunakan metode yang tidak merendahkan atau menakut-nakuti.

Sebaliknya, anak tidak seharusnya dipaksa menyembunyikan semua karakteristik autistiknya hanya untuk menyenangkan orang lain. Meminta anak terus-menerus menutupi perilaku alaminya (masking) dapat menimbulkan tekanan emosional bagi sebagian anak.

Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?

Diplomado Espectro Autista: Abordaje y Acompañamiento Integral - Ipchile Campus a Distancia

Berikan rasa aman

Tunjukkan bahwa anak tetap diterima dan disayangi meskipun memiliki cara berperilaku yang berbeda.

This Singapore mum turns son’s autism journey into a support mission for other parents - CNA Lifestyle

Sesuaikan cara berkomunikasi

Gunakan kata-kata sederhana, gambar, gerakan, atau alat komunikasi alternatif sesuai kebutuhan anak.

8 Life Skills You Can Teach Through Getting Dressed - PatPat

Hargai kemajuan anak

Berikan apresiasi atas usaha dan keterampilan yang berhasil dipelajari, tanpa menuntut anak mencapai semua hal sekaligus.

Beli Suplemen Anak Autism DI SINI

Kesimpulan

Menghadapi anak autisme membutuhkan kesabaran, pemahaman, dan penerimaan. Orang tua tidak perlu memaksa anak untuk selalu terlihat normal, mengikuti semua kebiasaan anak lain, atau menyembunyikan karakteristik dirinya.

Yang lebih penting adalah membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi, kemandirian, pengelolaan emosi, dan keterampilan sosial sesuai kebutuhannya. Dengan dukungan yang tepat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Ingat, anak tidak harus menjadi sama seperti anak lain untuk dapat berkembang dan memiliki kehidupan yang bermakna.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Shopping Cart

No products in the cart.

Return to shop

Angkung Original

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu