Sering Pusing Bukan Selalu Sepele, Kenali Kaitannya dengan Risiko Stroke
Banyak orang menganggap sakit kepala atau pusing sebagai keluhan ringan yang cukup diatasi dengan istirahat atau obat warung. Namun, sejumlah penelitian epidemiologi berskala besar menunjukkan bahwa sakit kepala yang sering terjadi — terutama migrain — ternyata berhubungan dengan peningkatan risiko stroke di kemudian hari. Artikel ini merangkum temuan ilmiah tersebut dan apa artinya bagi kesehatan Anda.
Migrain dan Risiko Stroke: Apa Kata Penelitian?
Sebuah studi epidemiologi besar di Amerika Serikat yang menggunakan data National Health and Nutrition Examination Survey menemukan bahwa, setelah mengendalikan faktor risiko stroke yang sudah dikenal seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan jenis kelamin, migrain maupun sakit kepala berat nonspesifik tetap berkaitan dengan peningkatan risiko stroke yang signifikan pada masa pemantauan lanjutan. Studi tersebut juga mencatat bahwa hubungan antara migrain dan stroke ini paling kuat terlihat pada perempuan usia muda, sehingga sakit kepala berat maupun migrain dianjurkan untuk dipertimbangkan sebagai faktor risiko stroke, khususnya pada orang yang belum memiliki faktor risiko stroke klasik lainnya.
Temuan serupa muncul dari studi kohort berbasis populasi yang dipublikasikan di The Journal of Headache and Pain (2016). Penelitian ini menemukan bahwa pasien dengan gangguan sakit kepala primer memiliki risiko 1,49 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke iskemik dibandingkan kelompok kontrol. Yang menarik, bukan hanya migrain, tetapi juga sakit kepala tipe tegang (tension-type headache) tercatat berkaitan dengan peningkatan risiko stroke iskemik, dan perempuan dengan gangguan sakit kepala primer menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan laki-laki.
Migrain dengan Aura: Kelompok Risiko Tertinggi
Dari berbagai penelitian, migrain dengan aura (gejala sensorik seperti kilatan cahaya atau kesemutan sebelum serangan sakit kepala) secara konsisten muncul sebagai subtipe dengan risiko paling tinggi. Studi registri HUNT di Norwegia yang mengikuti partisipan selama lebih dari satu dekade menemukan bahwa migrain dengan aura berkaitan dengan peningkatan risiko stroke, dengan risiko yang paling nyata pada kelompok usia di bawah 55 tahun dan pada perempuan. Sebaliknya, migrain tanpa aura maupun sakit kepala tipe tegang tidak terbukti meningkatkan risiko stroke dalam studi ini — menunjukkan bahwa kehadiran aura tampaknya menjadi penanda risiko yang penting.
Tinjauan berbasis bukti lain menguatkan pola ini: migrain, khususnya migrain dengan aura, secara signifikan meningkatkan risiko stroke iskemik, dengan risiko pada perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki, dan kebiasaan merokok serta penggunaan pil kontrasepsi oral semakin memperbesar risiko tersebut. Tinjauan ini juga mencatat adanya korelasi positif antara frekuensi serangan migrain, khususnya yang disertai aura, dengan risiko stroke iskemik.
Mengapa Hubungan Ini Bisa Terjadi?
Para peneliti menduga beberapa mekanisme yang mendasari kaitan ini, antara lain gangguan aliran darah sementara ke otak selama episode migrain, perubahan pada pembuluh darah otak, serta faktor pembekuan darah yang tumpang tindih antara migrain dan stroke. Namun para ahli menegaskan mekanisme pastinya masih memerlukan penelitian lebih lanjut, dan secara umum risiko stroke pada penderita migrain tetap tergolong kecil secara absolut — yang penting adalah risiko relatifnya meningkat dibanding orang tanpa migrain.
Kapan Pusing Perlu Diwaspadai?
Meski sebagian besar sakit kepala bersifat jinak, beberapa tanda berikut sebaiknya tidak diabaikan dan perlu segera diperiksakan ke layanan kesehatan:
- Sakit kepala yang muncul tiba-tiba dan sangat hebat (“seperti disambar petir”)
- Sakit kepala disertai kelemahan separuh tubuh, bicara pelo, atau gangguan penglihatan mendadak
- Pola sakit kepala yang berubah drastis dari biasanya, terutama pada usia di atas 50 tahun
- Migrain dengan aura yang makin sering atau makin berat, apalagi pada perempuan perokok atau pengguna pil KB hormonal
Langkah Pencegahan yang Didukung Bukti
Berdasarkan tinjauan ilmiah di atas, beberapa langkah yang disarankan untuk menekan risiko stroke pada penderita migrain antara lain berhenti merokok, mengevaluasi ulang penggunaan kontrasepsi hormonal bersama dokter, serta mengontrol tekanan darah secara rutin. Pengobatan untuk mengurangi frekuensi migrain dianggap masuk akal, meski bukti bahwa pengobatan tersebut secara langsung menurunkan risiko stroke pertama masih terbatas.
Sumber Jurnal Ilmiah
- Association between migraine and stroke in a large-scale epidemiological study of the United States — studi epidemiologi berbasis data NHANES.
- The potential impact of primary headache disorders on stroke risk — The Journal of Headache and Pain, Desember 2016, DOI: 10.1186/s10194-016-0701-2.
- Evidence-based evaluation of the primary prevention of stroke in migraineurs — Chinese Journal of Contemporary Neurology and Neurosurgery, 2015.
- Headache disorders and risk of stroke: A register-linked HUNT study — Cephalalgia Reports, November 2024 (studi kohort HUNT3, Norwegia).



Leave a Reply