Benarkah Kurang Olahraga Dapat Meningkatkan Risiko Hipertensi?
Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan global yang paling serius, dan salah satu faktor risiko yang paling sering dibicarakan adalah kurangnya aktivitas fisik. Pertanyaannya, apakah hubungan ini benar-benar didukung oleh bukti ilmiah? Jawabannya: ya, dan buktinya cukup kuat.
Apa Kata Penelitian?
Sejumlah studi kohort jangka panjang dan tinjauan sistematis telah mengonfirmasi hubungan ini. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap studi kohort menemukan bahwa orang yang memenuhi standar minimal aktivitas fisik mingguan mengalami penurunan risiko hipertensi sebesar 6%, dan manfaat perlindungan ini semakin besar pada tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi. Studi yang sama juga melaporkan adanya hubungan dosis-respons terbalik antara tingkat aktivitas fisik rekreasional dan risiko hipertensi, di mana aktivitas fisik tinggi dibandingkan rendah menurunkan risiko hingga 19%.
Bukti serupa muncul dari populasi yang berbeda-beda:
- Di Ethiopia, sebuah meta-analisis besar menemukan bahwa orang dewasa yang tidak melakukan aktivitas fisik memiliki kemungkinan 2,55 kali lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan mereka yang aktif secara fisik.
- Di Brasil, survei nasional terhadap lebih dari 54 ribu orang dewasa menunjukkan aktivitas fisik di waktu luang dapat menjadi faktor pelindung terhadap hipertensi, khususnya pada laki-laki.
- Pada dewasa muda, studi kohort CARDIA yang mengikuti partisipan dari usia 18 tahun menemukan bahwa tingkat aktivitas fisik yang rendah di usia 18 tahun berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi sebesar 4%, dan setiap penurunan aktivitas fisik dari tahun ke tahun turut meningkatkan risiko tersebut secara bertahap.
- Pada mahasiswa, sebuah studi di Uni Emirat Arab menyimpulkan aktivitas fisik yang rendah tetap menjadi penentu independen risiko tekanan darah tinggi pada dewasa muda.
- Studi Mendelian randomization (yang dirancang untuk menguji hubungan sebab-akibat menggunakan data genetik) tahun 2025 memperkuat temuan ini: aktivitas berat seperti pekerjaan rumah tangga yang menguras tenaga, olahraga aerobik, berjalan kaki, dan aktivitas fisik intens terbukti secara kausal menurunkan risiko hipertensi, meski aktivitas ringan atau intensitas sedang tidak menunjukkan efek signifikan.
- Studi kohort skala besar lain yang mengikuti partisipan selama 20 tahun menemukan bahwa kebugaran kardiorespirasi dan tingkat aktivitas fisik sama-sama berhubungan terbalik dengan perkembangan hipertensi.
Mengapa Kurang Gerak Bisa Menaikkan Tekanan Darah?
Secara umum, aktivitas fisik membantu menjaga elastisitas pembuluh darah, mengontrol berat badan, memperbaiki fungsi jantung, dan menurunkan resistensi pembuluh darah perifer. Ketika aktivitas fisik minim, faktor-faktor ini cenderung memburuk, sehingga tekanan darah lebih mudah naik. Menariknya, satu studi juga mencatat bahwa indeks massa tubuh yang tinggi dan aktivitas fisik yang rendah sama-sama berkontribusi pada peningkatan risiko hipertensi, menunjukkan bahwa keduanya sering berjalan beriringan dan saling memperkuat efek negatifnya.
Perlu dicatat juga, tidak semua jenis aktivitas fisik memberi efek sama. Salah satu studi menemukan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan saat bekerja tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan risiko hipertensi — berbeda dengan aktivitas fisik rekreasional atau olahraga terstruktur yang konsisten menunjukkan efek protektif.
Bagaimana dengan Orang yang Sudah Hipertensi?
Manfaat aktivitas fisik tidak berhenti pada pencegahan. Pada orang yang sudah didiagnosis hipertensi, data dari studi CARDIO2000 menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan hingga sedang berkaitan dengan penurunan risiko kejadian koroner sebesar 12% pada penderita hipertensi yang terkontrol, 9% pada yang tidak diobati atau tidak menyadari kondisinya, dan 5% pada yang tidak terkontrol.
Kesimpulan
Berdasarkan kumpulan bukti dari berbagai studi epidemiologi, meta-analisis, dan bahkan studi genetik kausal, kurang olahraga memang terbukti meningkatkan risiko hipertensi. Kabar baiknya, hubungan ini bersifat dapat dimodifikasi — artinya risiko dapat diturunkan secara nyata dengan meningkatkan aktivitas fisik secara rutin, terutama aktivitas aerobik dan latihan dengan intensitas sedang hingga berat seperti berjalan cepat, bersepeda, atau olahraga terstruktur lainnya.
Sumber Jurnal Ilmiah
- Reviews in Cardiovascular Medicine — “Hypertension and Physical Inactivity” (DOI: 10.31083/j.rcm2309302)
- NCBI/PMC — “The effects of physical inactivity on other risk factors for chronic disease: A systematic review of reviews” (PMC11385465)
- ScienceDirect — “Physical inactivity and its association with hypertension among adults in Ethiopia: A systematic review and meta-analysis”
- NCBI/PMC — “Association Between Leisure-Time Physical Activity and Self-Reported Hypertension Among Brazilian Adults, 2008” (PMC3810033)
- American Journal of Preventive Medicine — “Physical Activity and Hypertension From Young Adulthood to Middle Age” (studi CARDIA)
- Healthcare (MDPI) — “Low Physical Activity Levels Are Linked to Early Hypertension Risk in College-Going Young Adults” (DOI: 10.3390/healthcare9101258)
- Medicine (Lippincott/LWW), 2025 — “Physical activity lowers hypertension risk: A 2-sample Mendelian randomization study” (104:41(e45054))
- Journal of the American Heart Association (JAHA), 2020 — “Associations Between Physical Activity and Incident Hypertension Across Strata” (9:e015121)
- Scientific Reports (Nature) — “Effect of leisure-time physical activity on blood pressure in people with hypertension: a systematic review and meta-analysis”
- The Journal of Clinical Hypertension / PMC — studi CARDIO2000 tentang aktivitas fisik dan risiko koroner pada hipertensi (PMC8101900)



Leave a Reply