Kesulitan Menelan Setelah Stroke: Apa yang Harus Dilakukan?
Kesulitan menelan setelah stroke disebut disfagia. Kondisi ini dapat terjadi karena stroke memengaruhi otot, saraf, atau koordinasi yang diperlukan untuk mengunyah dan menelan.
Disfagia perlu diperhatikan serius karena makanan atau cairan dapat masuk ke saluran pernapasan (aspirasi), bahkan tanpa batuk yang jelas. Kondisi ini dapat menyebabkan pneumonia, kekurangan cairan, dan kurang gizi.
Tanda-tanda pasien mengalami gangguan menelan
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Batuk atau tersedak ketika makan atau minum.
- Suara menjadi gurgling/basah setelah menelan.
- Makanan atau cairan keluar dari mulut.
- Makanan tertinggal di dalam mulut.
- Kesulitan mengunyah atau membutuhkan waktu sangat lama untuk makan.
- Merasa makanan seperti tersangkut di tenggorokan.
- Air liur sering menetes.
- Berat badan menurun atau sering mengalami dehidrasi.
- Mengalami infeksi dada atau pneumonia berulang.
1. Jangan memaksakan makan atau minum
Jika pasien baru mengalami stroke dan belum diperiksa kemampuan menelannya, jangan langsung memberikan makanan, minuman, atau obat melalui mulut. Pedoman NICE merekomendasikan pemeriksaan menelan sebelum pasien stroke diberikan asupan oral.
Bila sudah diketahui mengalami disfagia, ikuti secara ketat jenis makanan dan minuman yang direkomendasikan tenaga kesehatan.
2. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan
Pasien dengan gangguan menelan sebaiknya mendapatkan penilaian dari tenaga kesehatan yang terlatih dalam menangani disfagia, termasuk terapis wicara dan bahasa bila tersedia.
Pemeriksaan dapat menentukan kemampuan menelan serta tekstur makanan dan kekentalan cairan yang paling aman bagi pasien.
Agkung Kain Niu Huang Wan Obat Stroke Ringan
3. Atur posisi saat makan
Bila pasien diperbolehkan makan melalui mulut, umumnya pasien perlu berada dalam posisi duduk tegak dengan kepala dan leher sejajar. Setelah makan, jangan langsung membaringkan pasien. American Stroke Association menyarankan posisi tegak selama makan dan setidaknya sekitar 30 menit setelahnya.
Namun, posisi khusus seperti menundukkan dagu (chin tuck) sebaiknya hanya dilakukan jika memang dianjurkan oleh tenaga kesehatan karena kebutuhan setiap pasien berbeda.
4. Sesuaikan tekstur makanan
Pasien mungkin membutuhkan makanan yang lebih lunak, dicincang, dihaluskan, atau bentuk tekstur tertentu. Konsistensi cairan juga mungkin perlu dimodifikasi.
Jangan mengentalkan minuman atau mengubah tekstur makanan hanya berdasarkan perkiraan keluarga. Jenis dan tingkat modifikasi sebaiknya mengikuti hasil penilaian disfagia.
5. Berikan makanan dalam jumlah kecil
Saat makan:
- Berikan suapan kecil.
- Biarkan pasien mengunyah dan menelan sampai selesai sebelum suapan berikutnya.
- Jangan terburu-buru.
- Kurangi gangguan seperti televisi atau percakapan berlebihan.
- Pastikan tidak ada sisa makanan yang tertinggal di mulut.
6. Perhatikan kebersihan mulut
Kebersihan mulut sangat penting pada pasien stroke dengan disfagia. Perawatan mulut yang baik dapat membantu mengurangi risiko pneumonia aspirasi.
Gigi, gusi, lidah, dan rongga mulut sebaiknya dibersihkan secara rutin sesuai kemampuan pasien atau dengan bantuan keluarga.
7. Jangan memberikan latihan menelan sembarangan
Latihan seperti latihan lidah, bibir, atau teknik menelan tertentu memang dapat digunakan dalam rehabilitasi disfagia. Namun, jenis latihan dan tekniknya harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan idealnya diberikan oleh tenaga kesehatan yang menangani gangguan menelan.
Kapan harus segera mencari pertolongan?
Segera cari bantuan medis jika pasien mengalami sesak napas, tersedak berat, sulit bernapas, kebiruan, atau kondisi memburuk setelah makan/minum.
Selain itu, batuk yang berulang saat makan, suara berubah menjadi basah, demam, atau infeksi dada setelah stroke perlu disampaikan kepada dokter karena dapat berkaitan dengan aspirasi.
Kesimpulan
Kesulitan menelan setelah stroke bukan masalah sepele. Penanganan yang tepat membantu mencegah aspirasi, pneumonia, dehidrasi, dan kekurangan nutrisi.
Keluarga sebaiknya tidak memaksakan pasien makan atau minum, memastikan posisi makan aman, mengikuti rekomendasi tekstur makanan, menjaga kebersihan mulut, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang menangani disfagia.



Leave a Reply