Belanja hemat bebas ongkir

Jarang Bergerak dan Terlalu Lama Duduk, Benarkah Bisa Memicu Stroke?

Banyak orang menghabiskan sebagian besar harinya duduk — baik saat bekerja di depan komputer, di perjalanan, maupun bersantai sambil menonton TV. Pertanyaannya, apakah kebiasaan jarang bergerak dan duduk terlalu lama benar-benar bisa memicu stroke? Jawabannya: ya, dan buktinya cukup kuat.

Duduk Lama = Risiko Naik, Meski Rutin Olahraga

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perilaku sedentari (sedentary behavior) — yaitu aktivitas dengan pengeluaran energi sangat rendah sambil duduk atau berbaring, seperti duduk lama, menonton TV, atau rebahan — berkaitan dengan peningkatan risiko stroke, dan hal ini terjadi secara independen, artinya tetap berisiko meskipun seseorang juga rutin berolahraga.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis dosis-respons yang meneliti hubungan antara perilaku sedentari dan risiko stroke menegaskan bahwa ketidakaktifan fisik merupakan faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi, yang terdiri dari dua aspek berbeda: kurangnya aktivitas fisik intensitas sedang-berat dan lamanya waktu duduk (sedentary time) itu sendiri.

Penelitian lain pada kelompok lansia (60 tahun ke atas) juga menemukan bahwa pada orang berusia di bawah 60 tahun dengan tingkat aktivitas rendah, waktu sedentari rekreasional lebih dari 8 jam per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke jangka panjang.

Kenapa Duduk Terlalu Lama Berbahaya?

Meningkatkan aktivitas fisik diketahui dapat mengaktifkan mekanisme neuroprotektif serta mengurangi berbagai faktor risiko kardiovaskular lainnya. Sebaliknya, terlalu lama duduk tanpa jeda cenderung memperburuk faktor-faktor risiko tersebut — dari sirkulasi darah yang kurang lancar hingga kontribusinya terhadap tekanan darah tinggi, kadar gula darah, dan berat badan berlebih, yang semuanya merupakan faktor risiko stroke yang sudah dikenal luas.

Bahaya Ini Berlanjut Meski Sudah Terkena Stroke

Menariknya, dampak buruk duduk lama ini tidak berhenti sampai di situ. Studi kohort prospektif berbasis data nasional AS (NHANES 2007–2018) pada penyintas stroke menemukan bahwa waktu duduk yang lama berkaitan dengan peningkatan risiko kematian, meski risiko tersebut dapat berkurang signifikan jika penyintas tetap melakukan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu.

Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa mayoritas penyintas stroke justru sangat minim bergerak — diperkirakan sekitar 40% penyintas stroke jarang atau bahkan tidak melakukan aktivitas fisik di waktu luang, dan rata-rata waktu aktivitas fisik intensitas sedang-berat mereka hanya berkisar 5–10 menit per hari.

Bukan Berarti Harus Olahraga Berat

Kabar baiknya, para peneliti menemukan bahwa jeda sederhana dari posisi duduk — seperti berdiri sejenak atau berjalan singkat secara berkala — sudah terbukti bermanfaat. Studi dari kalangan pekerja juga menunjukkan bahwa mereka yang rutin mengambil jeda tanpa duduk lebih dari dua kali sehari memiliki risiko penyakit tidak menular (termasuk yang berkaitan dengan faktor risiko kardiometabolik) yang lebih rendah dibanding yang duduk terus-menerus.

BELI OBAT STROKE DISINI!!

Kesimpulan

Jarang bergerak dan terlalu lama duduk terbukti berkaitan dengan peningkatan risiko stroke, bahkan pada orang yang tetap berolahraga secara rutin. Kabar baiknya, risiko ini bisa dikurangi dengan langkah sederhana: sering-seringlah berdiri, berjalan sebentar, atau sekadar mengubah posisi setiap 30–60 menit sekali, terutama bagi yang bekerja seharian sambil duduk.

Sumber Jurnal Ilmiah

  1. Sedentary behavior and the risk of stroke: A systematic review and dose-response meta-analysis. ScienceDirect (Journal of Stroke and Cerebrovascular/terkait ilmu saraf).
  2. Association of physical activity, sedentary behavior and stroke in older adults. Frontiers in Public Health. Tersedia di: https://www.frontiersin.org/journals/public-health/articles/10.3389/fpubh.2024.1484765/full
  3. Sitting Time, Leisure-Time Physical Activity, and Risk of Mortality Among US Stroke Survivors: A Prospective Cohort Study From the NHANES 2007 to 2018. Stroke (American Heart Association Journals). DOI: 10.1161/STROKEAHA.124.049672
  4. Prevalence of Physical Activity and Sedentary Behavior Among Stroke Survivors in the United States. PMC (PubMed Central), NCBI. Tersedia di: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4146341/
  5. Break in Sedentary Behavior Reduces the Risk of Noncommunicable Diseases and Cardiometabolic Risk Factors among Workers in a Petroleum Company. PMC (PubMed Central), NCBI. Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5451952/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Shopping Cart

No products in the cart.

Return to shop

Angkung Original

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu